Kalau sedang bertugas ke daerah-daerah di Indonesia, teman-teman saya
selalu mengagendakan aktivitas makan makanan khas daerah setempat. Bagi
saya pribadi, hal ini masih tergantung pada ketersediaan waktu dan juga
uang di kantong. Jika keduanya bersatu padu, maka mencicipi masakan khas
setempat merupakan satu hal yang sangat berharga bagi saya.
Sebagai orang Bengkulu, saya harus mengakui kalau selama ini saya tak
begitu hirau dengan nama-nama masakan dari dapur orang Bengkulu. Saya
hanya mengingat bahannya serta rasanya. Sejak kecil, ibunda di rumah
sangat memanjakan saya dan saudara-saudara dengan segala masakan khas
orang kito di Bengkulu ini. Yang jelas, dari sekian masakan itu, ikan
merupakan masakan paling saya sukai. Sampai-sampai dulu ayahanda
berkelakar saat saya akan merantau ke Yogyakarta, "Nanti kalu ngah lah
de agi di 'umah, siape nihan yang makan palak ikan ni.... " (Nanti kalau
ngah sudah tidak ada di rumah, siapa lagi yang akan menyantap kepala
ikan ini). Ngah adalah panggilan adik-adik untuk kakak nomor 2 bagi
orang-orang Bengkulu suku Kaur). Yup, kepala ikan merupakan bagian dari
ikan yang sangat saya sukai. Itu sebabnya, meski jauh dari Bengkulu,
saya masih terus menikmati kepala ikan kakap, ikan patin, dan ikan-ikan
lainnya. Dan betapa bersyukurnya saya ketika tahun lalu berada di
Balikpapan dan Banjarmasin saya dapat menikmati kepala ikan patin dan
ikan ghuan (gabus). Rasanya sunggu enak, berbeda dengan makan ikan
cakalang atau ekor kuning kalau sedang berada di Maluku.